Asahimachi, Kampung Indonesia di Kanazawa

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Kanazawa University (KU) menjadi salah satu tujuan pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi di Jepang. Ada program Double-Degree Program of Computational Science Course antara KU dengan kampus di Indonesia yaitu Institut Teknologi Bandung dan Universitas Gajahmada untuk program Master dan Doktor. Lalu ada juga kerjasama KU-DIKTI (Direktorat Pendidikan Tinggi) khusus menyekolahkan dosen Indonesia untuk program Doktor, dan terkini ada Risetpro (Research and Innovation in Science and Technology Progam) bagi periset Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) seperti BPPT, LIPI, BATAN, BIG, BSN dan Bapeten. Belum lagi pelajar Indonesia mandiri yang mendapat beasiswa MEXT dari pemerintah Jepang.  Jadilah Kanazawa menjadi tempat yang ramai dengan  pelajar dari Indonesia.

Selain di Internasional House –atau kami menyebutnya asrama kampus, ada  beberapa daerah dimana pelajar Indonesia banyak tinggal, yaitu Asahimachi, Morinosato, Wakamatsu, Sakuramachi, Okuwamachi.  Dan kalau bisa disebutkan, dari semua daerah itu maka Asahimachi lah, yang menjadi tempat tinggal favorit pelajar dan keluarga Indonesia di Kanazawa. Ya, dengan semakin banyaknya mahasiswa Indonesia di Kanazawa University, ditambah lagi dengan kedatangan keluarganya menjadikan suasana Asahimachi ini ibarat kampung Indonesia.

Asahimachi merupakan blok area atau distrik di kota Kanazawa, yang mungkin setingkat kelurahan kalau di Indonesia. Sepanjang yang saya tahu Asahimachi ini memiliki 3 blok, bisa dikatakan setingkat RT (Rukun Tetangga) yang di sebut chome. Nah, saat ini kebanyakan konsentrasi tinggal masyarakat Indonesia di Asahimachi 3 chome dengan adanya sekitar 10 apato (istilah apartemen di Jepang) yang ditinggali masyarakat Indonesia dan hanya 1 yang apato single dan lainnya apato family dan tinggal bersama keluarganya. Ada satu gedung yang sangat dikenal karena banyaknya masyarakat Indonesia tinggal disitu, yaitu Asahi Haitsu yang ditinggali 7 keluarga Indonesia. Bahkan sebenarnya bisa bertambah banyak lagi karena ada beberapa keluarga Indonesia lain yang terpaksa pindah dari gedung tersebut karena satu dan lain hal.

Beberapa keluarga tinggal di Asahimachi 2 Chome, yang dekat dengan kantor pos dan tepian sungai Asanogawa, termasuk saya sekeluarga tinggal di blok ini. Dan di awal tahun 2017 ini, Asahimachi 1 Chome juga menjadi konsentrasi tinggal baru bagi keluarga Indonesia setelah beberapa rekan menjemput keluarga untuk tinggal bersama dan juga karena harus keluar dari asrama kampus karena masa tinggal dibatasi hanya 6 bulan untuk yang menempuh studi doctoral.

Kenapa tinggal di Asahimachi ? Nah, ini pertanyaan menarik. Rata-rata kalau urusan apato  pertimbangan utama adalah luas, harga dan akses. Daya tarik inilah yang dimiliki Asahimachi. Sejak 3 tahun terakhir, banyak pelajar Indonesia yang mengajak serta keluarganya tinggal di Kanazawa sini, sehingga perlu apato yang cukup luas dengan harga terjangkau. Kalau bicara harga di Jepang sini, kita semua sudah mafhum, bahwa ada harga ada rupa, tapi serendah-rendah harga tetap yang baik dan terjamin. Contohnya Asahi Haitsu jadi gedung apartemen yang paling laku bagi keluarga pelajar Indonesia, karena pilihan kamar dan harga yang wajar dan standar, lagi pula kan tidak untuk tinggal selamanya di Kanazawa ini.

Selain itu Asahimachi merupakan titik terakhir halte bis yang termasuk tiket langganan bus ke kampus KU. Apalagi saat musim dingin, yang tidak mungkin berangkat dengan sepeda, kecuali kalau maksa sekali jalan kaki atau punya mobil, maka bus umum menjadi transportasi wajib yang dipakai. Pemegang kartu langganan bus dari Asahimachi ke Kampus KU Kakumamachi, akan bebas naik-turun di sepanjang 9 halte yang ada diantarnya. Enaknya tinggal di Asahimachi, karena kalau berangkat naik bus menjadi halte pertama yang disinggahi bus langganan, jadi tidak terlalu padat.

Oiya, KU memiliki 2 kampus utama yaitu Kakumamachi untuk Natural Science dan Teknik serta kampus Takaramachi untuk studi medis dan keperawatan. Kebanyakan pelajar Indonesia itu mengambil Natural Science dan Teknik, dan secara transportasi terlingkupi oleh bus langganan kampus, dan bagi pelajar yang kuliah di kampus Takaramachi, untuk tinggal di Asahimachi itu juga dekat, karena hanya terhalang oleh bukit yang walaupun menanjak lumayan tinggi namun sudah ada jalan rapi bisa dilalui sepeda.

Lokasi Asahimachi juga termasuk dekat ke pusat kota Kanazawa dan pusat wisatanya seperti Kenrokuen Garden dan Kanazawa Castle. Bagi para ibu biasanya untuk belajar di kelas Bahasa Jepang di International Lounge di Hirosaka, daerah seputar pusat kota Kourinbo, agar lebih santai dapat ditempuh juga dengan sepeda.

Nah untuk keperluan logistic rumah tangga, pusat belanja besar terdekat dari Asahimachi yaitu Aeon Mall, yang menawarkan diskon mingguan sayur dan telor setiap hari Selasa dan Sabtu, juga diskon bulanan setiap tanggal 20 dan 30 sebesar 5%, dan tentu saja diskon harian untuk barang tertentu jika belanja lewat jam 20.00. Ada juga Albis Supermarket, malah ada dua yang di Tagami dan di Monirosato yang juga menawarkan diskon sayur dan buah tiap hari Rabu.  Memang untuk belanja khusus swalayan yang banyak menyediakan makanan halal seperti Gyomu Suupaa, agak jauh, tetapi kita masih bisa memilah makanan yang bisa dimakan dari komposisi bahannya. Untuk sayuran dan buah dengan harga lebih murah ada pilihan di kios Himawari di arah kampus Takaramachi tepatnya di Kudatsuno, disamping beberapa kombini di sekitar Asahimachi seperti FamilyMart, Lawson, Popura. Bahkan di kombini Popura, ada beberapa bagian yang menjual harga 100 yen saja. Mungkin kalau disebut kekurangan sedikit di Asahimachi, tempatnya agak jauh dari toko hyakuen (seratus yen) seperti Daiso, yang menjual aneka barang praktis dan unik dengan harga sama 100 yen. Betul, dari Asahimasi, toko Daiso terdekat adanya di Kudatsuno.

Bagi keluarga pelajar Indonesia, biasanya suasana yang dibangun adalah suasana kekeluargaan, kebersamaan, guyub. Apalagi tinggal dalam lokasi yang relatif berdekatan menjadikan kami sering bertemu, bercengkerama. Eh iya, kebiasaan inilah yang sedikit berbeda dan harus dijaga selama tinggal di Jepang ini, sebab mereka umumnya tinggal dan menjaga ketenangan (baca : sunyi), sehingga kadang kalau kami saling berpapasan di jalanan apalagi lama tidak bertemu teman, jadi berbicara lama dan kadang tertawa, bisa jadi ada tetangga apato yang complain ke polisi atau minimal melongok jendela atau memasang muka cemberut kepada kita. Kalau ini terjadi, jadinya kita tahu diri untuk lebih baik pembicaraan diselesaikan atau kalau mau dilanjutkan di dalam apato saja.

Bagi anak-anak muslim, Alhamdulillah rasa Indonesia terjaga dengan adanya Taman Pendidikan Alquran (TPA) di Asahimachi, bahkan karena saking banyaknya anak Indonesia, akhirnya dipisah menjadi 2 antara yang kelas 4 SD ke bawah (TPA kecil) dan kelas 5 ke atas (TPA besar). Jangan ditanya lagi keriuhan kalau anak-anak Indonesia bertemu. Makanya para pengajar TPA ini mensiasati dengan bergantian tempat belajarnya, bergilir diantara apato keluarga Indonesia yang bisa. Tentu isunya sama, kalaupun ramai suasananya tapi cukup dimaklumi tetangga sebelah dan tidak menjadikan komplain lanjutan.  Bagi keluarga muslim, Asahimachi juga termasuk dekat dengan masjid satu-satunya yang ada di Kanazawa, yaitu masjid Umar bin Khatab, sehingga kalau ada kegiatan kajian dan khususnya Ramadhan dengan buka puasa bersama dan tarawih di masjid mudah dijangkau dengan sepeda.

Dalam beberapa kesempatan, anak-anak Indonesia ini juga diadakan outdoor activities seperti outbond termasuk lomba-lomba dalam rangka 17 Agustusan, HUT RI. Nah pilihan utamanya selalu taman Udon, sebutan familiar untuk taman yang berada di sebelah kedai Udon (mie tradisional Jepang). Apalagi lokasinya dekat sungai dan pohon sakura, pastilah ini lokasi yang pas juga untuk hanamian atau barbeque. Ya, sungai Asanogawa jadi tempat rutin menggelar acara keluarga seperti Hanamian saat bunga sakura mekar, dan juga barbeque antar antar angkatan atau sesama anggota lab di kampus. Bukan rasa Indonesia kalau tidak ngumpul rame-rame, bercerita, berfoto bersama dan upload di media social he..he..

Ada satu kegiatan yang unik yang agaknya baru bagi yaitu waktu buang barang besar bulanan, kalau istilah kita pergomian. Walaupun ini tentu saja bukan untuk hal yang serius dan hanya sekedar selempang lewat saja.  Memang wilayah Asahimachi ini termasuk wilayah yang dihuni mahasiswa. Dan saat waktu itu, biasanya hari Jumat, wah kalau mau niat banget masih banyak barang yang bagus dan sudah dibuang entah karena selesai studi atau bosan. Tapi biasanya kami menandai kalau sekitar bulan Maret-Mei karena banyak pelajar yang sudah selesai studi dan harus membuang barang-barangnya dari apato. Aturannya membuang barang besar harus membeli stiker khusus di kombini, namun dalam prakteknya banyak saja yang tinggal menaruh barang di tempat sampah saja.

Itulah sekelumit cerita, Asahimachi, kampung Indonesia di Kanazawa. Bagi yang pernah tinggal di area ini, pasti akan memberikan banyak kenangan, suka duka, cerita yang menghiasi jalan kehidupan para pelajar Indonesia dan keluarga di Kanazawa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s